tak dikenal di bumi namun sangat terkenal di langit, itulah Uwais Al Qarni. Hingga dia disebut" sebagai Tabi'in terbaik sebagaimana sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Umar ibn al-Khaththab
radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah bersabda,
"Sebaik-baik Tabi'in adalah seorang yang disebut dengan Uwais dan ia
memiliki seorang ibu dan juga punya penyakit kusta; maka mintalah
kepadanya agar ia memohonkan ampunan kepada Allah untuk kalian." (Shahih
Muslim, juz IV: 1968; Musnad Ahmad, juz I: 38).
Uwais Al Qarni merupakan seorang
pemuda bermata biru, rambutnya merah, pundaknya lapang panjang,
berpenampilan cukup tampan, kulitnya kemerah-merahan, dagunya menempel
di dada selalu melihat pada tempat sujudnya, tangan kanannya menumpang
pada tangan kirinya, ahli membaca Al Qur’an dan menangis, pakaiannya
hanya dua helai sudah kusut yang satu untuk penutup badan dan yang
satunya untuk selendangan, tiada orang yang menghiraukan, tak dikenal
oleh penduduk bumi akan tetapi sangat terkenal di langit.
menurut al kisah dia tinggal di Yaman dan dia hanya bekerja sebagai pengembala domba bayaran, dia begitu miskin hingga tak jarang dia diperolok oleh masyarakat namun dibalik kemiskinannya itu dia tetap menyisihkan sedikit rizkinya untuk menolong orang" yang membutuhkan. Dia tak memiliki sanak saudara selain ibunya, ibunya pun juga sudah sangat lemah, sudah sangat tua sakit"an dan buta. dia begitu menyayangi dan patuh terhadap ibunya.
Dalam keseharian dia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk berdzikir dan beribadah pada Allah, dia tak banyak berbicara hingga tak banyak orang yang mengenalnya. Rabi' ibn Khutsaim berkata, "Aku pergi ke tempat Uwais al-Qarni. Aku
mendapati beliau sedang duduk setelah selesai menunaikan shalat Subuh.
Aku berkata (pada diriku), "Aku tidak akan mengganggunya dari bertasbih.
Setelah masuk waktu Dzuhur, beliau mengerjakan shalat Dzuhur, dan
begitu masuk waktu Ashar, beliau shalat Ashar. Selesai shalat Ashar,
beliau duduk sambil berdzikir hingga tiba waktu Maghrib. Setelah shalat
Maghrib, beliau menunggu waktu Isya', kemudian shalat Isya'. Selesai
shalat Isya', beliau mengerjakan shalat hingga menjelang Subuh. Setelah
shalat Subuh, beliau duduk dan tanpa sengaja tertidur. Tiba-tiba saja
beliau terbangun. Ketika itu aku mendengar dia berkata, 'Ya Allah, aku
berlindung kepada-Mu dari mata yang senang tidur, dan perut yang tidak
merasa kenyang.'" (az-Zuhdul Awa'il, Musthafa Hilmi, 84).
Uwais merupakan sosok yang sangat mencintai Rasulullah SAW walaupun dia tak pernah bertemu dengan beliau. Dan suatu hari dia mendengar suatu kabar bahwa ada seseorang yang akan pergi ke Madinah untuk bertemu dan mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW. Dia ingin sekali ikut pergi namun dia tak memiliki banyak bekal selain itu dia tidak tega bila harus meninggalkan ibunya seorang diri. Akhirnya dia mengurungkan niatnya untuk pergi demi menjaga sang ibu. Dia merasakan kegelisahannya karna memendam kerinduan pada Rasulullah SAW. kegelisahannya itu dirasakan oleh sang ibu, Uwais menceritakan kegelisahannya pada sang ibu, sang ibubegitu terharu mendengar keluhan putranya itu. Lalu sang ibu mengizinkan dia untuk pergi ke Madinah untuk menemui Nabi Muhammad dengan syarat harus segera pulang bila sudah bertemu dengan sang Rasul, akhirnya dia menyanggupi dan berangkat ke Madinah atas seizin ibunya.
Perjalananya menuju ke Madinah sangat berat, dia harus melewati gurun pasir dan bukit" dengan berjalan kaki, namun itu semua terkalahkan dengan rasa rindunya pada Rasulullah.
Tibalah
Uwais al-Qarni di kota Madinah. Segera ia menuju ke rumah Nabi SAW,
diketuknya pintu rumah itu sambil mengucapkan salam. Keluarlah
sayyidatina ‘Aisyah r.a., sambil menjawab salam Uwais. Segera saja Uwais
menanyakan Nabi yang ingin dijumpainya. Namun ternyata beliau SAW tidak
berada di rumah melainkan berada di medan perang.Betapa kecewa hati
sang perindu, dari jauh ingin berjumpa tetapi yang dirindukannya tak
berada di rumah. Dalam hatinya bergolak perasaan ingin menunggu
kedatangan Nabi SAW dari medan perang. Tapi, kapankah beliau pulang ?
Sedangkan masih terngiang di telinga pesan ibunya yang sudah tua dan
sakit-sakitan itu, agar ia cepat pulang ke Yaman,” Engkau harus lekas
pulang”.Karena ketaatan kepada ibunya, pesan ibunya tersebut telah
mengalahkan suara hati dan kemahuannya untuk menunggu dan berjumpa
dengan Nabi SAW. Ia akhirnya dengan terpaksa mohon pamit kepada
sayyidatina ‘Aisyah r.a. untuk segera pulang ke negerinya. Dia hanya
menitipkan salamnya untuk Nabi SAW dan melangkah pulang dengan perasaan
haru.
Sepulangnya
dari perang, Nabi SAW langsung menanyakan tentang kedatangan orang yang
mencarinya. Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa Uwais al-Qarni adalah
anak yang taat kepada ibunya. Ia adalah penghuni langit (sangat terkenal
di langit). Mendengar perkataan baginda Rosulullah SAW, sayyidatina
‘Aisyah r.a. dan para sahabatnya tertegun. Menurut informasi sayyidatina
‘Aisyah r.a., memang benar ada yang mencari Nabi SAW dan segera pulang
kembali ke Yaman, karena ibunya sudah tua dan sakit-sakitan sehingga ia
tidak dapat meninggalkan ibunya terlalu lama.Rosulullah SAW bersabda :
“Kalau kalian ingin berjumpa dengan dia (Uwais al-Qarni), perhatikanlah,
ia mempunyai tanda putih di tengah-tengah telapak tangannya.”Sesudah
itu beliau SAW, memandang kepada sayyidina Ali k.w. dan sayyidina Umar
r.a. dan bersabda : “Suatu ketika, apabila kalian bertemu dengan dia,
mintalah do’a dan istighfarnya, dia adalah penghuni langit dan bukan
penghuni bumi”.
Tahun
terus berjalan, dan tak lama kemudian Nabi SAW wafat, hingga
kekhalifahan sayyidina Abu Bakar ash-Shiddiq r.a. telah di estafetkan
Khalifah Umar r.a. Suatu ketika, khalifah Umar teringat akan sabda Nabi
SAW. tentang Uwais al-Qarni, sang penghuni langit. Beliau segera
mengingatkan kepada sayyidina Ali k.w. untuk mencarinya bersama.Sejak
itu, setiap ada kafilah yang datang dari Yaman, beliau berdua selalu
menanyakan tentang Uwais al-Qorni, apakah ia turut bersama mereka.
Diantara kafilah-kafilah itu ada yang merasa heran, apakah sebenarnya
yang terjadi sampai-sampai ia dicari oleh beliau berdua. Rombongan
kafilah dari Yaman menuju Syam silih berganti, membawa barang dagangan
mereka.Suatu ketika, Uwais al-Qorni turut bersama rombongan kafilah
menuju kota Madinah. Melihat ada rombongan kafilah yang datang dari
Yaman, segera khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. mendatangi
mereka dan menanyakan apakah Uwais turut bersama mereka. Rombongan itu
mengatakan bahwa ia ada bersama mereka dan sedang menjaga unta-unta
mereka di perbatasan kota. Mendengar jawaban itu, beliau berdua bergegas
pergi menemui Uwais al-Qorni.Sesampainya di kemah tempat Uwais berada,
Khalifah Umar r.a. dan sayyidina Ali k.w. memberi salam. Namun rupanya
Uwais sedang melaksanakan sholat. Setelah mengakhiri shalatnya, Uwais
menjawab salam kedua tamu agung tersebut sambil bersalaman.
Sewaktu
berjabatan, Khalifah Umar segera membalikkan tangan Uwais, untuk
membuktikan kebenaran tanda putih yang berada ditelapak tangan Uwais,
sebagaimana pernah disabdakan oleh baginda Nabi SAW. Memang benar ! Dia
penghuni langit.Dan ditanya Uwais oleh kedua tamu tersebut, siapakah
nama saudara ?“Abdullah”, jawab Uwais.Mendengar jawaban itu, kedua
sahabatpun tertawa dan mengatakan : “Kami juga Abdullah, yakni hamba
Allah. Tapi siapakah namamu yang sebenarnya ?”Uwais kemudian berkata:
“Nama saya Uwais al-Qorni”.Dalam pembicaraan mereka, diketahuilah bahwa
ibu Uwais telah meninggal dunia. Itulah sebabnya, ia baru dapat turut
bersama rombongan kafilah dagang saat itu. Akhirnya, Khalifah Umar dan
Ali k.w. memohon agar Uwais berkenan mendo’akan untuk mereka. Uwais
enggan dan dia berkata kepada khalifah:“Sayalah yang harus meminta do’a
kepada kalian”.Mendengar perkataan Uwais, Khalifah berkata:“Kami datang
ke sini untuk mohon do’a dan istighfar dari anda”.Karena desakan kedua
sahabat ini, Uwais al-Qorni akhirnya mengangkat kedua tangannya, berdo’a
dan membacakan istighfar. Setelah itu Khalifah Umar r.a. berjanji untuk
menyumbangkan wang negara dari Baitul Mal kepada Uwais, untuk jaminan
hidupnya.Segera saja Uwais menolak dengan halus dengan berkata : “Hamba
mohon supaya hari ini saja hamba diketahui orang. Untuk hari-hari
selanjutnya, biarlah hamba yang fakir ini tidak diketahui orang lagi.
Setibanya
di Madinah, kami membagi-bagikan seluruh harta kepada orang-orang fakir
di Madinah, tidak satupun yang tertinggal.Beberapa waktu kemudian,
tersiar kabar kalau Uwais al-Qorni telah pulang ke rahmatullah. Anehnya,
pada saat dia akan dimandikan tiba-tiba sudah banyak orang yang
berebutan untuk memandikannya. Dan ketika dibawa ke tempat pembaringan
untuk dikafani, di sana sudah ada orang-orang yang menunggu untuk
mengkafaninya. Demikian pula ketika orang pergi hendak menggali
kuburnya. Di sana ternyata sudah ada orang-orang yang menggali kuburnya
hingga selesai. Ketika usungan dibawa menuju ke pekuburan, luar biasa
banyaknya orang yang berebutan untuk mengusungnya.Dan Syeikh Abdullah
bin Salamah menjelaskan, “ketika aku ikut mengurusi jenazahnya hingga
aku pulang dari mengantarkan jenazahnya, lalu aku bermaksud untuk
kembali ke tempat penguburannya guna memberi tanda pada kuburannya, akan
tetapi sudah tak terlihat ada bekas kuburannya. (Syeikh Abdullah bin
Salamah adalah orang yang pernah ikut berperang bersama Uwais al-Qorni
pada masa pemerintahan sayyidina Umar r.a.)Meninggalnya Uwais al-Qorni
telah menggemparkan masyarakat kota Yaman. Banyak terjadi hal-hal yang
amat mengherankan. Sedemikian banyaknya orang yang tak dikenal
berdatangan untuk mengurus jenazah dan pemakamannya, padahal Uwais
adalah seorang fakir yang tak dihiraukan orang.Sejak
ia dimandikan sampai ketika jenazahnya hendak diturunkan ke dalam
kubur, di situ selalu ada orang-orang yang telah siap melaksanakannya
terlebih dahulu. Penduduk kota Yaman tercengang.Mereka saling
bertanya-tanya : “Siapakah sebenarnya engkau wahai Uwais al-Qorni ?
Bukankah Uwais yang kita kenal, hanyalah seorang fakir yang tak memiliki
apa-apa, yang kerjanya hanyalah sebagai penggembala domba dan unta ?
Tapi, ketika hari wafatmu, engkau telah menggemparkan penduduk Yaman
dengan hadirnya manusia-manusia asing yang tidak pernah kami kenal.
Mereka datang dalam jumlah sedemikian banyaknya. Agaknya mereka adalah
para malaikat yang di turunkan ke bumi, hanya untuk mengurus jenazah dan
pemakamannya. Baru saat itulah penduduk Yaman mengetahuinya siapa
“Uwais al-Qorni” ternyata ia tak terkenal di bumi tapi menjadi terkenal
di langit.
